Aku yang berlindung dalam ringkuhmu
Bersembunyi dibalik tangismu
Lemahku kujadikan kuatmu
Aku adalah sinar mentari yang bersembunyi dibalik gelapmu
Tangismu adalah lukaku
Derap derai kisahmu adalah guratan-guratan nyata
yang kerap mengisi dan menjerat hatiku
Hati ini milikmu, meski tak sempat kau jamah bahkan hanya untuk sekedar kau lihat
Kucoba membuka tingkap-tingkap hati dan mencernanya
Dia yang kucari atau siapa?
Dirimu kah tanya?
Atau dirimu lah jawaban?
Semua berputar mengitari hati dan akal
Kucoba menarik diri, menarik hati
Namun jejak jejakmu terus menggali batasku
Siluet dari masa-masamu membayangi hariku
Aku terkurung dalam aura jiwamu
Namun pertahanan ini sudah tak lagi terbendung
Aku berlari pada ragamu
Aku tak lagi bersembunyi dalam gelapmu
Aku tak ingin menjadi pagi, aku ingin menjadi siang
Aku tak mau lagi menjadi semu
Karna aku adalah nyata, senyata hangat peluk yang selalu ada untukmu
Inspired by: Novel Dealova (about Ibel n Karra)
NB: kemaren pas bongkar2 gudang aku nemuin buku favoritku waktu sma, aku udah baca buku ini lamaaaaa banget, dan ini udah dibilang keberapa puluh kalinya aku baca buku ini dan still nangis, dan akhirnya tiba2 jadi punya hasrat buat ngungkapin rasa si Ibel ke dalam puisi.. hehehe
Jumat, 21 Agustus 2009
Senin, 20 Juli 2009
Pangeran Kelabu
Aku menjejakkan kaki pada pelana hati
Namun semua terasa lamur, buram, tertoreh tiada arti
Hati ini berbisik, mengusik
Siapa yang sedang berkelana menapaki kabut ini?
Dunia ini serasa runtuh...
Ataukah sedang bersembunyi?
Akankah ini tertuang dalam logika yang relevan dengan nurani?
Hati berkata ya
Rongga akal berkata tidak
Sebuah kontradiksi yang gagal menempuh kebenaran sebagai jalan akhir sebuah fakta
Bibir berkata ya
Mata berkata tidak
Akankah kau mampu mendobrak kemunafikan yang terbius disana?
Ini mimpi...
Dan kuharap ini memang mimpi...
Mimpi yang menggambarkan sebuah pusaran
Sebuah linear yang tidak henti-hentinya berputar mengitari kehidupan
Yang kuharap aku tidak pernah terlibat di dalamnya
Namun terlambat...
Aku sudah disana, berdiri sebagai poros dilema...
Sejenak aku diam...
Mencoba mencerna keadaan...
Aku bertanya kepada ruang kosong
Apa yang sedang "kau" cari?
Hitam kah?
Putih kah?
Dan semilir angin balik berbisik
"Kau sedang mencari pangeran kelabu."
Namun semua terasa lamur, buram, tertoreh tiada arti
Hati ini berbisik, mengusik
Siapa yang sedang berkelana menapaki kabut ini?
Dunia ini serasa runtuh...
Ataukah sedang bersembunyi?
Akankah ini tertuang dalam logika yang relevan dengan nurani?
Hati berkata ya
Rongga akal berkata tidak
Sebuah kontradiksi yang gagal menempuh kebenaran sebagai jalan akhir sebuah fakta
Bibir berkata ya
Mata berkata tidak
Akankah kau mampu mendobrak kemunafikan yang terbius disana?
Ini mimpi...
Dan kuharap ini memang mimpi...
Mimpi yang menggambarkan sebuah pusaran
Sebuah linear yang tidak henti-hentinya berputar mengitari kehidupan
Yang kuharap aku tidak pernah terlibat di dalamnya
Namun terlambat...
Aku sudah disana, berdiri sebagai poros dilema...
Sejenak aku diam...
Mencoba mencerna keadaan...
Aku bertanya kepada ruang kosong
Apa yang sedang "kau" cari?
Hitam kah?
Putih kah?
Dan semilir angin balik berbisik
"Kau sedang mencari pangeran kelabu."
Rabu, 06 Mei 2009
Ironi Dari Sebuah Kemunafikan
Dia yang termenung dan termangu
Seakan-akan tersedot kedalam lubang hitam dalam pikirannya yang nyaris beku
Perangai itu masih disana
Perangai yang menghubungkan antara hati dan logika
Sebuah antagonistik yang masih menjelajahi kelimbungan
Dan masih bermain dengan kesetiaan
Atau mungkinkah ini adalah sebuah penghianatan?
Persetan dengan etika!
Bibir berkata, hati berkelana, dan Otak menyimpang entah kemana
Semua begitu kontradiksi
Tidak ada kejelasan
Tidak ada keselarasan
Dan sesosok individu hilang dari kriteria tegas atas sebuah karakteristik
Dia hanyalah maya atas dirinya...
Dia hanyalah abu-abu...
Dia hanyalah remang...
Dia tidak cukup hidup untuk menjadi nyata.
Seakan-akan tersedot kedalam lubang hitam dalam pikirannya yang nyaris beku
Perangai itu masih disana
Perangai yang menghubungkan antara hati dan logika
Sebuah antagonistik yang masih menjelajahi kelimbungan
Dan masih bermain dengan kesetiaan
Atau mungkinkah ini adalah sebuah penghianatan?
Persetan dengan etika!
Bibir berkata, hati berkelana, dan Otak menyimpang entah kemana
Semua begitu kontradiksi
Tidak ada kejelasan
Tidak ada keselarasan
Dan sesosok individu hilang dari kriteria tegas atas sebuah karakteristik
Dia hanyalah maya atas dirinya...
Dia hanyalah abu-abu...
Dia hanyalah remang...
Dia tidak cukup hidup untuk menjadi nyata.
Jumat, 20 Maret 2009
Ketika Jiwa Sedang Berkelana
Hidup adalah sebuah tanda tanya besar
Dimana sebuah makna tiba-tiba hadir untuk melepaskan jiwa dari sang raga
Sejenak ia tak bertuan
Sejenak ia berkelana untuk mencari kebenaran atas nama misteri
Melalui sajak ia bertutur
Puing-puing realita sebagian telah digenggamnya
Dan sebagian berserak hilang di pelataran rimba
Rimba yang terkadang menyesatkan
Rimba yang terkadang mengajarkan tentang keterasingan
Dan Rimba ini yang pada akhirnya menenangkan getir dalam jiwa yang hilang
Sekelibat cahaya menyusuri ruang kosong yang bertempat di hatinya
Akankah diam tetap menempati posisi mutlak dalam bibir asanya?
Atau pemberontakan menjadi jawaban atas penat seribu tahunnya?
Sang raga yang tak bertuan masih disana
Masih menunggu kepulangan dari sang jiwa atas jawaban hidupnya
Akankah hidup sungguh berarti?
Atau hidup hanyalah sekumpulan diktat dengan daftar isi dengan berbagai kisah, prinsip dan sebab akibat?
Sampai detik ini sang raga masih juga tak bertuan
Adakah itu sebuah pertanda bahwa hidup tak dapat diuraikan dengan diktat maupun deskripsi?
Karna jiwa tak dapat membawa hidup pulang kepada sang raga
Begitu pula dengan hidup, yang tak dapat memulangkan jiwa kepada sang raga
Ini bukan sebuah kompleksitas
Ini hanyalah sebuah dilema
Dilema yang terperangkap di dalam keambisiusan tanya
Dimana sebuah makna tiba-tiba hadir untuk melepaskan jiwa dari sang raga
Sejenak ia tak bertuan
Sejenak ia berkelana untuk mencari kebenaran atas nama misteri
Melalui sajak ia bertutur
Puing-puing realita sebagian telah digenggamnya
Dan sebagian berserak hilang di pelataran rimba
Rimba yang terkadang menyesatkan
Rimba yang terkadang mengajarkan tentang keterasingan
Dan Rimba ini yang pada akhirnya menenangkan getir dalam jiwa yang hilang
Sekelibat cahaya menyusuri ruang kosong yang bertempat di hatinya
Akankah diam tetap menempati posisi mutlak dalam bibir asanya?
Atau pemberontakan menjadi jawaban atas penat seribu tahunnya?
Sang raga yang tak bertuan masih disana
Masih menunggu kepulangan dari sang jiwa atas jawaban hidupnya
Akankah hidup sungguh berarti?
Atau hidup hanyalah sekumpulan diktat dengan daftar isi dengan berbagai kisah, prinsip dan sebab akibat?
Sampai detik ini sang raga masih juga tak bertuan
Adakah itu sebuah pertanda bahwa hidup tak dapat diuraikan dengan diktat maupun deskripsi?
Karna jiwa tak dapat membawa hidup pulang kepada sang raga
Begitu pula dengan hidup, yang tak dapat memulangkan jiwa kepada sang raga
Ini bukan sebuah kompleksitas
Ini hanyalah sebuah dilema
Dilema yang terperangkap di dalam keambisiusan tanya
Selasa, 06 Januari 2009
Karna Kau Adalah Yang Kucinta
Setiap liku ini adalah makna
Makna dimana aku mendapati dirimu adalah takdir
Dimana kau menjadi langit atas jiwaku
Dimana kau menjadi hembusan di setiap nafasku
Dunia ini hanya ada kamu
Dimana setiap keheningan adalah semu atas bayangmu
Di setiap sudut keriuhan hanya ada canda tawamu
Dan hangat sang fajar adalah mutlak pelukmu
Indahnya keheningan dari mencinta
Meski lekuk dari sang fajar tak mampu hembuskan rasa ini padamu
Aku ingin kau disini...
Mendengar desau dari hati dan jiwa ini
Dan biarlah langit yang bercerita
Jika bilik dari empunya segala rasa tak mampu menginterpretasikan kejujuran ini
Dan biarlah cinta yang berbicara
Jika mulut ini seketika menjadi bisu ketika kau hadir di depan kedua bola mataku
Karna kau begitu dirimu
Karna kau begitu kamu
Karna itu kau maka disana aku
Makna dimana aku mendapati dirimu adalah takdir
Dimana kau menjadi langit atas jiwaku
Dimana kau menjadi hembusan di setiap nafasku
Dunia ini hanya ada kamu
Dimana setiap keheningan adalah semu atas bayangmu
Di setiap sudut keriuhan hanya ada canda tawamu
Dan hangat sang fajar adalah mutlak pelukmu
Indahnya keheningan dari mencinta
Meski lekuk dari sang fajar tak mampu hembuskan rasa ini padamu
Aku ingin kau disini...
Mendengar desau dari hati dan jiwa ini
Dan biarlah langit yang bercerita
Jika bilik dari empunya segala rasa tak mampu menginterpretasikan kejujuran ini
Dan biarlah cinta yang berbicara
Jika mulut ini seketika menjadi bisu ketika kau hadir di depan kedua bola mataku
Karna kau begitu dirimu
Karna kau begitu kamu
Karna itu kau maka disana aku
Kamis, 04 September 2008
Ketika Berjelaga
Keheningan ini sedikit mengusik jiwa yang tertunda
Sebuah kerinduan yang tertata kembali atas masa lalu
Sebuah pinta yang terkubur oleh sekat-sekat kehidupan
Kini sang pemeran utama kembali menjejakkan benak yang telah lama dingin
Hidup yang terlanjur berjelaga
Terlanjur menganga dalam serpihan raga yang utuh
Mungkin ini rasa...
Rasa yang bersembunyi dibalik ragu...
Ragu untuk menjadi siapa...
Sekali lagi lautan sunyi membahana...
Membahana kepada jiwa yang rabun
Membahana kepada sukma yang tuli
Sesosok objek penderita menjadi alasan atas berdirinya ketimpangan ini
Namun ia bahagia...
Ia bahagia dalam persembunyiannya yang pelik
Ia bahagia dalam keambiguan hati...
Dan semua telah menjadi setara....
Selaras...
Tanpa ketimpangan...
Tanpa kehilangan...
Sebuah kerinduan yang tertata kembali atas masa lalu
Sebuah pinta yang terkubur oleh sekat-sekat kehidupan
Kini sang pemeran utama kembali menjejakkan benak yang telah lama dingin
Hidup yang terlanjur berjelaga
Terlanjur menganga dalam serpihan raga yang utuh
Mungkin ini rasa...
Rasa yang bersembunyi dibalik ragu...
Ragu untuk menjadi siapa...
Sekali lagi lautan sunyi membahana...
Membahana kepada jiwa yang rabun
Membahana kepada sukma yang tuli
Sesosok objek penderita menjadi alasan atas berdirinya ketimpangan ini
Namun ia bahagia...
Ia bahagia dalam persembunyiannya yang pelik
Ia bahagia dalam keambiguan hati...
Dan semua telah menjadi setara....
Selaras...
Tanpa ketimpangan...
Tanpa kehilangan...
Kamis, 15 Mei 2008
Love Define Between The Angel and The Damn
Sesekali, aku ingin mengintip Surga
Seperti apa kegembiraan yang tersirat didalamnya?
Tubuh yang hina ini mencoba menembus perbatasan antara Neraka dan Surga
Kubuka gerbang kokoh itu, dan yang kulihat adalah ruang kosong dengan satu pintu emas di ujung lainnya.
Masih di dalam tubuh hina ini aku berjalan
Aku berpijak pada lantai-lantai yang tak beralas
Lingkup ini sedikit memaksaku untuk menarik nafas lebih dalam
Semakin jauh aku berjalan, semakin ringkuh tubuh ini menembus dimensi pertautan
Sampai ku di tengah perjalanan
Dimana hati ini mulai menarik segala ambisi yang tadinya menelan seluruh aku
Sayap hitamku koyak,
Aku bahkan tidak ingat, sejak kapan aku menjadi sehancur ini dalam wujud hinaku?
Sejauh yang kuingat, aku disana karena mimpi
Badan ini gontai
Detik berikutnya sayap ini patah keduanya
Namun aku masih dalam perangaiku dari dunia kegelapan
Kesakitan ini sungguh luar biasa...
Aku tidak ingat,
Apa yang membuatku bermimpi ingin mengunjungi Surga
Namun yang kutahu,
Sesuatu menungguku disana
Aku hampir musnah dalam kegalauanku
Namun entah mengapa, ini terlalu dini untuk terakhiri
Dengan wujud setetengah abadi aku melanjutkan perjalanan ini
Selangkah demi selangkah, perih pun kian menjadi
Tubuh ini perlahan-lahan koyak
Wujud ini jatuh satu demi satu
Aku mengerang
Aku kesakitan
Aku menutup mata
Dan seketika ku tersadar
Aku telanjang...
Namun pintu itu tak lagi jauh...
Dan aku tak lagi peduli mau seperti apa wujudku nanti...
Aku hanya ingin berlari
Aku hanya ingin menjemput mimpi....
Dan sesampaiku disana
Aku melihat yang tercinta tersenyum sambil berkata...
“Aku tahu kau kan datang untukku”
Dan dia lah Surgaku...
Seperti apa kegembiraan yang tersirat didalamnya?
Tubuh yang hina ini mencoba menembus perbatasan antara Neraka dan Surga
Kubuka gerbang kokoh itu, dan yang kulihat adalah ruang kosong dengan satu pintu emas di ujung lainnya.
Masih di dalam tubuh hina ini aku berjalan
Aku berpijak pada lantai-lantai yang tak beralas
Lingkup ini sedikit memaksaku untuk menarik nafas lebih dalam
Semakin jauh aku berjalan, semakin ringkuh tubuh ini menembus dimensi pertautan
Sampai ku di tengah perjalanan
Dimana hati ini mulai menarik segala ambisi yang tadinya menelan seluruh aku
Sayap hitamku koyak,
Aku bahkan tidak ingat, sejak kapan aku menjadi sehancur ini dalam wujud hinaku?
Sejauh yang kuingat, aku disana karena mimpi
Badan ini gontai
Detik berikutnya sayap ini patah keduanya
Namun aku masih dalam perangaiku dari dunia kegelapan
Kesakitan ini sungguh luar biasa...
Aku tidak ingat,
Apa yang membuatku bermimpi ingin mengunjungi Surga
Namun yang kutahu,
Sesuatu menungguku disana
Aku hampir musnah dalam kegalauanku
Namun entah mengapa, ini terlalu dini untuk terakhiri
Dengan wujud setetengah abadi aku melanjutkan perjalanan ini
Selangkah demi selangkah, perih pun kian menjadi
Tubuh ini perlahan-lahan koyak
Wujud ini jatuh satu demi satu
Aku mengerang
Aku kesakitan
Aku menutup mata
Dan seketika ku tersadar
Aku telanjang...
Namun pintu itu tak lagi jauh...
Dan aku tak lagi peduli mau seperti apa wujudku nanti...
Aku hanya ingin berlari
Aku hanya ingin menjemput mimpi....
Dan sesampaiku disana
Aku melihat yang tercinta tersenyum sambil berkata...
“Aku tahu kau kan datang untukku”
Dan dia lah Surgaku...
Langgan:
Entri (Atom)