Hey you who are falling into a nerve
You who are hiding behind your fragile shield
Get out from your pressures
Show to the world about who really you are
Go run for the wideness
Spread your perspectives about how the real life is
The existence of this sorrow is only there for completing the temptation of your life
It's only there for verifying the limits of your weak and strong
It reminds your faith towards to how real you are
Hey you, who are escape from the time
Come back from the every seconds of your past
'Cus past just let you still
'Cus past never brings you to nowhere but sealed
Jump out from that space
Knock the wall of your golden heart
Give the optimistic into your blurry mind
Let the universe whispered
Let the ONE whose own the authority of life work on HIS way
Let your spirit grow below the wisdom of your soul
And make your life even better from time to time
'Cus life is just too beautiful to be complicated
And you are too early to be defeated by its charm
Friday, November 5, 2010
Friday, May 7, 2010
Sisi Jiwa yang Tak Pernah Pupus
Merana ku di penghujung akal ku
Lemah tak diasah dan seketika hilang tak berbisik
Sunyi ini menyenandungkan perih
Perih akan jiwa yg terlupa
Sebuah tokoh yang hidup tanpa peran
Sebuah jiwa yang limbung dan tak mapan
Jiwa yang rindu akan warna langit
Jiwa yang rindu akan warna hidup
Gemerisik sajak sesekali membangunkan benak
Tak banyak namun mampu membuatnya berlongitudinal dalam akal
Ini adalah seni yg gigih
Ini adalah yang terlupa
Kemonotonan sekalipun tak mampu membunuh insting seorang penyair
Sekalipun ia ingin...
Sebuah peranan jiwa kembali bangkit dibalik asanya yg bergejolak
Sekali lagi dia berdiri sebagai pribadi teguh yg merdeka
Tak dapat lenyap dan dilenyapkan
Dia masih disana menghantui hidupku
Menghantui setiap masaku..
Selamat datang wahai penyair...
Selamat berdiam di dalam sisi hidupku yang lain...
Lemah tak diasah dan seketika hilang tak berbisik
Sunyi ini menyenandungkan perih
Perih akan jiwa yg terlupa
Sebuah tokoh yang hidup tanpa peran
Sebuah jiwa yang limbung dan tak mapan
Jiwa yang rindu akan warna langit
Jiwa yang rindu akan warna hidup
Gemerisik sajak sesekali membangunkan benak
Tak banyak namun mampu membuatnya berlongitudinal dalam akal
Ini adalah seni yg gigih
Ini adalah yang terlupa
Kemonotonan sekalipun tak mampu membunuh insting seorang penyair
Sekalipun ia ingin...
Sebuah peranan jiwa kembali bangkit dibalik asanya yg bergejolak
Sekali lagi dia berdiri sebagai pribadi teguh yg merdeka
Tak dapat lenyap dan dilenyapkan
Dia masih disana menghantui hidupku
Menghantui setiap masaku..
Selamat datang wahai penyair...
Selamat berdiam di dalam sisi hidupku yang lain...
Saturday, February 20, 2010
Yang Tertinggal di Sudut Hati
Sebuah bintara atas nama masa lalu datang berbaris menyusuri sel-sel otakku
Kepenatan itu kian menjadi
Susah senang
Namun susah lebih mendominasi keterpurukan hati
Setapak yang tercipta dari jejak-jejak kepedihan
Alang-alang yang menjadi pemanis dari pemandangan sore itu
Penelusuran ini menguak kembali tambang hati yg telah pupus
Pupus dari keberadaan mereka yg pernah ada di jendela asa ku
Mereka yg selalu menjadi prioritas
Mereka yg selalu jadi alasan
Ini itu
Namun semua hanyalah bohong besar
Aku tertipu
Aku karam
Aku terlarut
Aku tertinggal
Dan hanya aku
Bohong besar tetap menjadi bohong besar
Dan aku tetap dalam kebodohan
Itu yg membedakan aku dari mereka
Mereka adalah bohong besar
Dan aku adalah sang bodoh yg hidup di dalam kebohongan besar
Pribadi ini memakan seluruh karakterku
Aku limbung, ling lung
Hati ini seketika dingin, kaku
Kobaran hati kecilku tak lagi sehangat yg dulu
Jeritan hatiku menggema dan menggaung
Semakin membesar menyorakkan kepenatan hatiku
Aku lelah
Lelah menjadi lara
Lelah menjadi senyum
Aku lelah menjadi lemah dan kuat
Karna itu bukan untukku
Dan semua itu menjadi cukup
Aku telah memenangkan suara hatiku
Aku meneriakkan kebebasanku
Aku berada di puncak dimana seharusnya aku memenangkan tempatku
Namun peluh dari lautan kepenatan itu masih melekat
Entah dimana
Mereka masih menyeringai menggapai-gapai
Dan mereka takkan lelah untuk terus menggapai kaki dari keteguhan hatiku
Kepenatan itu kian menjadi
Susah senang
Namun susah lebih mendominasi keterpurukan hati
Setapak yang tercipta dari jejak-jejak kepedihan
Alang-alang yang menjadi pemanis dari pemandangan sore itu
Penelusuran ini menguak kembali tambang hati yg telah pupus
Pupus dari keberadaan mereka yg pernah ada di jendela asa ku
Mereka yg selalu menjadi prioritas
Mereka yg selalu jadi alasan
Ini itu
Namun semua hanyalah bohong besar
Aku tertipu
Aku karam
Aku terlarut
Aku tertinggal
Dan hanya aku
Bohong besar tetap menjadi bohong besar
Dan aku tetap dalam kebodohan
Itu yg membedakan aku dari mereka
Mereka adalah bohong besar
Dan aku adalah sang bodoh yg hidup di dalam kebohongan besar
Pribadi ini memakan seluruh karakterku
Aku limbung, ling lung
Hati ini seketika dingin, kaku
Kobaran hati kecilku tak lagi sehangat yg dulu
Jeritan hatiku menggema dan menggaung
Semakin membesar menyorakkan kepenatan hatiku
Aku lelah
Lelah menjadi lara
Lelah menjadi senyum
Aku lelah menjadi lemah dan kuat
Karna itu bukan untukku
Dan semua itu menjadi cukup
Aku telah memenangkan suara hatiku
Aku meneriakkan kebebasanku
Aku berada di puncak dimana seharusnya aku memenangkan tempatku
Namun peluh dari lautan kepenatan itu masih melekat
Entah dimana
Mereka masih menyeringai menggapai-gapai
Dan mereka takkan lelah untuk terus menggapai kaki dari keteguhan hatiku
Monday, December 7, 2009
Jiwa yang Menggaung Dari Delhi
Seorang
sahabat berkelana ke dunia antah berantah
Gandhi yang beku, katanya...
Sendiri terselimutkan rindu dan sepi
Hilang jati diri, terjerumus dalam pasak melankolistik
Kerinduan mengorek kesadarannya
Kesadaran akan segala kesalahan
Keputusan yang terlanjur ditempuh setengah tahun lamanya
Dan masih ada tahun berikutnya yang menunggu
Gandhi yang beku, katanya...
Sendiri terselimutkan rindu dan sepi
Hilang jati diri, terjerumus dalam pasak melankolistik
Kerinduan mengorek kesadarannya
Kesadaran akan segala kesalahan
Keputusan yang terlanjur ditempuh setengah tahun lamanya
Dan masih ada tahun berikutnya yang menunggu
Menunggu untuk sebuah misteri yang akan mengisi segala tangis dan peluhnya
Air mata itu telah mengering
Lelah menangisi kesendiriannya
Lelah menangisi segala kekeliruannya
Lelah menangisi kerinduannya
Namun raga tetap tak dapat berteleportasi dan kembali
Aku tahu...
Hati itu telah mengakar...
Menjelajah pada setiap sudut perhentian dan sandaran
Mencari
sang bumipertiwi
Mencari
makhluk-makhluk yang pernah ada di dalamnya
Tatkala kelak dia akan terlahir kembali
Bermetamorfosis menjadi makhluk yang lebih sempurna...
Dan ketika saat itu tiba semua akan bersorak sorai dan melempar kebanggaan atas dirinya...
Karna tangis, peluh, kesendirian dan tawa
Tatkala kelak dia akan terlahir kembali
Bermetamorfosis menjadi makhluk yang lebih sempurna...
Dan ketika saat itu tiba semua akan bersorak sorai dan melempar kebanggaan atas dirinya...
Karna tangis, peluh, kesendirian dan tawa
Telah
mengajarkannya
Delhi telah membuka mata batinnya
Gandhi yang beku telah melelehkan hatinya
Delhi telah membuka mata batinnya
Gandhi yang beku telah melelehkan hatinya
Friday, August 21, 2009
When Love Finally Define
I the one who took a shelter in your brittleness
Who was hiding behind your tears
The covert strength which overwhelm your weakness
I am the sunbeam reversed to your darkness
Your tears are my wounds
The clatter of your journey is an obvious scratches
Which frequently seize my heart
And these feels are yours, even yet you touch though you see
I try to open the casement of my heart and trace it
Is there anyone or whom?
Is it you, the biggest question?
Or maybe you are the answer
Everything revolve, encircle between the conscience and thoughts
I tried to pull my self out, withdrew all the feels that I've got
Yet the trails of yours continuously compel my limits
The silhouettes of your times mesmerize my days
I trapped within the charm of your soul
However these barriers are no longer be sustainable
I will run after you
I no longer be an idle beneath the dark side of you
I'm finished with the dawn and I will be the day
I quit play as the role of a shadow
For I am the tangible, I am real...
As real as the embrace of twilight which always there for you
Indonesian Translation:
Aku yang berlindung dalam ringkuhmu
Bersembunyi dibalik tangismu
Sebuah kekuatan diam yang bersemayam dalam lemahmu
Aku adalah sinar mentari yang bersembunyi dibalik gelapmu
Tangismu adalah lukaku
Derap derai kisahmu adalah guratan-guratan nyata
Yang kerap mengisi dan menjerat hatiku
Hati ini milikmu, meski tak sempat kau jamah bahkan hanya untuk sekedar kau lihat
Kucoba membuka tingkap-tingkap hati dan mencernanya
Dia yang kucari atau siapa?
Dirimu kah tanya?
Atau dirimu lah jawaban?
Semua berputar mengitari hati dan akal
Kucoba menarik diri, menarik hati
Namun jejak jejakmu terus menggali batasku
Siluet dari masa-masamu membayangi hariku
Aku terkurung dalam aura jiwamu
Namun pertahanan ini sudah tak lagi terbendung
Aku berlari pada ragamu
Aku tak lagi bersembunyi dalam gelapmu
Aku tak ingin menjadi pagi, aku ingin menjadi siang
Aku tak mau lagi menjadi semu
Karna aku adalah nyata...
Senyata pelukan senja yang selalu ada untukmu
Inspired by: Novel Dealova (about Ibel n Karra)
NB: kemaren pas bongkar2 gudang aku nemuin buku favoritku waktu sma, aku udah baca buku ini lamaaaaa banget, dan ini udah dibilang keberapa puluh kalinya aku baca buku ini dan still nangis, dan akhirnya tiba2 jadi punya hasrat buat ngungkapin rasa si Ibel ke dalam puisi.. hehehe
Who was hiding behind your tears
The covert strength which overwhelm your weakness
I am the sunbeam reversed to your darkness
Your tears are my wounds
The clatter of your journey is an obvious scratches
Which frequently seize my heart
And these feels are yours, even yet you touch though you see
I try to open the casement of my heart and trace it
Is there anyone or whom?
Is it you, the biggest question?
Or maybe you are the answer
Everything revolve, encircle between the conscience and thoughts
I tried to pull my self out, withdrew all the feels that I've got
Yet the trails of yours continuously compel my limits
The silhouettes of your times mesmerize my days
I trapped within the charm of your soul
However these barriers are no longer be sustainable
I will run after you
I no longer be an idle beneath the dark side of you
I'm finished with the dawn and I will be the day
I quit play as the role of a shadow
For I am the tangible, I am real...
As real as the embrace of twilight which always there for you
Indonesian Translation:
Aku yang berlindung dalam ringkuhmu
Bersembunyi dibalik tangismu
Sebuah kekuatan diam yang bersemayam dalam lemahmu
Aku adalah sinar mentari yang bersembunyi dibalik gelapmu
Tangismu adalah lukaku
Derap derai kisahmu adalah guratan-guratan nyata
Yang kerap mengisi dan menjerat hatiku
Hati ini milikmu, meski tak sempat kau jamah bahkan hanya untuk sekedar kau lihat
Kucoba membuka tingkap-tingkap hati dan mencernanya
Dia yang kucari atau siapa?
Dirimu kah tanya?
Atau dirimu lah jawaban?
Semua berputar mengitari hati dan akal
Kucoba menarik diri, menarik hati
Namun jejak jejakmu terus menggali batasku
Siluet dari masa-masamu membayangi hariku
Aku terkurung dalam aura jiwamu
Namun pertahanan ini sudah tak lagi terbendung
Aku berlari pada ragamu
Aku tak lagi bersembunyi dalam gelapmu
Aku tak ingin menjadi pagi, aku ingin menjadi siang
Aku tak mau lagi menjadi semu
Karna aku adalah nyata...
Senyata pelukan senja yang selalu ada untukmu
Inspired by: Novel Dealova (about Ibel n Karra)
NB: kemaren pas bongkar2 gudang aku nemuin buku favoritku waktu sma, aku udah baca buku ini lamaaaaa banget, dan ini udah dibilang keberapa puluh kalinya aku baca buku ini dan still nangis, dan akhirnya tiba2 jadi punya hasrat buat ngungkapin rasa si Ibel ke dalam puisi.. hehehe
Monday, July 20, 2009
Pangeran Kelabu
Aku menjejakkan kaki pada pelana hati
Namun semua terasa lamur, buram, tertoreh tiada arti
Hati ini berbisik, mengusik
Siapa yang sedang berkelana menapaki kabut ini?
Dunia ini serasa runtuh...
Ataukah sedang bersembunyi?
Akankah ini tertuang dalam logika yang relevan dengan nurani?
Hati berkata ya
Rongga akal berkata tidak
Sebuah kontradiksi yang gagal menempuh kebenaran sebagai jalan akhir sebuah fakta
Bibir berkata ya
Mata berkata tidak
Akankah kau mampu mendobrak kemunafikan yang terbius disana?
Ini mimpi...
Dan kuharap ini memang mimpi...
Mimpi yang menggambarkan sebuah pusaran
Sebuah linear yang tidak henti-hentinya berputar mengitari kehidupan
Yang kuharap aku tidak pernah terlibat di dalamnya
Namun terlambat...
Aku sudah disana, berdiri sebagai poros dilema...
Sejenak aku diam...
Mencoba mencerna keadaan...
Aku bertanya kepada ruang kosong
Apa yang sedang "kau" cari?
Hitam kah?
Putih kah?
Dan semilir angin balik berbisik
"Kau sedang mencari pangeran kelabu."
Namun semua terasa lamur, buram, tertoreh tiada arti
Hati ini berbisik, mengusik
Siapa yang sedang berkelana menapaki kabut ini?
Dunia ini serasa runtuh...
Ataukah sedang bersembunyi?
Akankah ini tertuang dalam logika yang relevan dengan nurani?
Hati berkata ya
Rongga akal berkata tidak
Sebuah kontradiksi yang gagal menempuh kebenaran sebagai jalan akhir sebuah fakta
Bibir berkata ya
Mata berkata tidak
Akankah kau mampu mendobrak kemunafikan yang terbius disana?
Ini mimpi...
Dan kuharap ini memang mimpi...
Mimpi yang menggambarkan sebuah pusaran
Sebuah linear yang tidak henti-hentinya berputar mengitari kehidupan
Yang kuharap aku tidak pernah terlibat di dalamnya
Namun terlambat...
Aku sudah disana, berdiri sebagai poros dilema...
Sejenak aku diam...
Mencoba mencerna keadaan...
Aku bertanya kepada ruang kosong
Apa yang sedang "kau" cari?
Hitam kah?
Putih kah?
Dan semilir angin balik berbisik
"Kau sedang mencari pangeran kelabu."
Wednesday, May 6, 2009
Ironi Dari Sebuah Kemunafikan
Dia yang termenung dan termangu
Seakan-akan tersedot kedalam lubang hitam dalam pikirannya yang nyaris beku
Perangai itu masih disana
Perangai yang menghubungkan antara hati dan logika
Sebuah antagonistik yang masih menjelajahi kelimbungan
Dan masih bermain dengan kesetiaan
Atau mungkinkah ini adalah sebuah penghianatan?
Persetan dengan etika!
Bibir berkata, hati berkelana, dan Otak menyimpang entah kemana
Semua begitu kontradiksi
Tidak ada kejelasan
Tidak ada keselarasan
Dan sesosok individu hilang dari kriteria tegas atas sebuah karakteristik
Dia hanyalah maya atas dirinya...
Dia hanyalah abu-abu...
Dia hanyalah remang...
Dia tidak cukup hidup untuk menjadi nyata.
Seakan-akan tersedot kedalam lubang hitam dalam pikirannya yang nyaris beku
Perangai itu masih disana
Perangai yang menghubungkan antara hati dan logika
Sebuah antagonistik yang masih menjelajahi kelimbungan
Dan masih bermain dengan kesetiaan
Atau mungkinkah ini adalah sebuah penghianatan?
Persetan dengan etika!
Bibir berkata, hati berkelana, dan Otak menyimpang entah kemana
Semua begitu kontradiksi
Tidak ada kejelasan
Tidak ada keselarasan
Dan sesosok individu hilang dari kriteria tegas atas sebuah karakteristik
Dia hanyalah maya atas dirinya...
Dia hanyalah abu-abu...
Dia hanyalah remang...
Dia tidak cukup hidup untuk menjadi nyata.
Subscribe to:
Posts (Atom)