Wednesday, May 6, 2009

Ironi Dari Sebuah Kemunafikan

Dia yang termenung dan termangu
Seakan-akan tersedot kedalam lubang hitam dalam pikirannya yang nyaris beku
Perangai itu masih disana
Perangai yang menghubungkan antara hati dan logika

Sebuah antagonistik yang masih menjelajahi kelimbungan
Dan masih bermain dengan kesetiaan
Atau mungkinkah ini adalah sebuah penghianatan?

Persetan dengan etika!
Bibir berkata, hati berkelana, dan Otak menyimpang entah kemana

Semua begitu kontradiksi
Tidak ada kejelasan
Tidak ada keselarasan
Dan sesosok individu hilang dari kriteria tegas atas sebuah karakteristik

Dia hanyalah maya atas dirinya...
Dia hanyalah abu-abu...
Dia hanyalah remang...

Dia tidak cukup hidup untuk menjadi nyata.

Friday, March 20, 2009

Ketika Jiwa Sedang Berkelana

Hidup adalah sebuah tanda tanya besar
Dimana sebuah makna tiba-tiba hadir untuk melepaskan jiwa dari sang raga
Sejenak ia tak bertuan
Sejenak ia berkelana untuk mencari kebenaran atas nama misteri

Melalui sajak ia bertutur
Puing-puing realita sebagian telah digenggamnya
Dan sebagian berserak hilang di pelataran rimba

Rimba yang terkadang menyesatkan
Rimba yang terkadang mengajarkan tentang keterasingan
Dan Rimba ini yang pada akhirnya menenangkan getir dalam jiwa yang hilang

Sekelibat cahaya menyusuri ruang kosong yang bertempat di hatinya
Akankah diam tetap menempati posisi mutlak dalam bibir asanya?
Atau pemberontakan menjadi jawaban atas penat seribu tahunnya?

Sang raga yang tak bertuan masih disana
Masih menunggu kepulangan dari sang jiwa atas jawaban hidupnya
Akankah hidup sungguh berarti?
Atau hidup hanyalah sekumpulan diktat dengan daftar isi dengan berbagai kisah, prinsip dan sebab akibat?

Sampai detik ini sang raga masih juga tak bertuan
Adakah itu sebuah pertanda bahwa hidup tak dapat diuraikan dengan diktat maupun deskripsi?
Karna jiwa tak dapat membawa hidup pulang kepada sang raga
Begitu pula dengan hidup, yang tak dapat memulangkan jiwa kepada sang raga

Ini bukan sebuah kompleksitas
Ini hanyalah sebuah dilema
Dilema yang terperangkap di dalam keambisiusan tanya

Tuesday, January 6, 2009

Karna Kau Adalah Yang Kucinta

Setiap liku ini adalah makna
Makna dimana aku mendapati dirimu adalah takdir
Dimana kau menjadi langit atas jiwaku
Dimana kau menjadi hembusan di setiap nafasku

Dunia ini hanya ada kamu
Dimana setiap keheningan adalah semu atas bayangmu
Di setiap sudut keriuhan hanya ada canda tawamu
Dan hangat sang fajar adalah mutlak pelukmu

Indahnya keheningan dari mencinta
Meski lekuk dari sang fajar tak mampu hembuskan rasa ini padamu

Aku ingin kau disini...
Mendengar desau dari hati dan jiwa ini

Dan biarlah langit yang bercerita
Jika bilik dari empunya segala rasa tak mampu menginterpretasikan kejujuran ini

Dan biarlah cinta yang berbicara
Jika mulut ini seketika menjadi bisu ketika kau hadir di depan kedua bola mataku

Karna kau begitu dirimu
Karna kau begitu kamu
Karna itu kau maka disana aku

Thursday, September 4, 2008

Ketika Berjelaga

Keheningan ini sedikit mengusik jiwa yang tertunda
Sebuah kerinduan yang tertata kembali atas masa lalu
Sebuah pinta yang terkubur oleh sekat-sekat kehidupan
Kini sang pemeran utama kembali menjejakkan benak yang telah lama dingin

Hidup yang terlanjur berjelaga
Terlanjur menganga dalam serpihan raga yang utuh

Mungkin ini rasa...

Rasa yang bersembunyi dibalik ragu...

Ragu untuk menjadi siapa...

Sekali lagi lautan sunyi membahana...
Membahana kepada jiwa yang rabun
Membahana kepada sukma yang tuli

Sesosok objek penderita menjadi alasan atas berdirinya ketimpangan ini

Namun ia bahagia...
Ia bahagia dalam persembunyiannya yang pelik

Ia bahagia dalam keambiguan hati...

Dan semua telah menjadi setara....

Selaras...

Tanpa ketimpangan...

Tanpa kehilangan...

Thursday, May 15, 2008

Love Define Between The Angel and The Damn

Sesekali, aku ingin mengintip Surga
Seperti apa kegembiraan yang tersirat didalamnya?
Tubuh yang hina ini mencoba menembus perbatasan antara Neraka dan Surga
Kubuka gerbang kokoh itu, dan yang kulihat adalah ruang kosong dengan satu pintu emas di ujung lainnya.

Masih di dalam tubuh hina ini aku berjalan
Aku berpijak pada lantai-lantai yang tak beralas
Lingkup ini sedikit memaksaku untuk menarik nafas lebih dalam
Semakin jauh aku berjalan, semakin ringkuh tubuh ini menembus dimensi pertautan

Sampai ku di tengah perjalanan
Dimana hati ini mulai menarik segala ambisi yang tadinya menelan seluruh aku

Sayap hitamku koyak,
Aku bahkan tidak ingat, sejak kapan aku menjadi sehancur ini dalam wujud hinaku?

Sejauh yang kuingat, aku disana karena mimpi

Badan ini gontai
Detik berikutnya sayap ini patah keduanya
Namun aku masih dalam perangaiku dari dunia kegelapan
Kesakitan ini sungguh luar biasa...

Aku tidak ingat,
Apa yang membuatku bermimpi ingin mengunjungi Surga
Namun yang kutahu,
Sesuatu menungguku disana

Aku hampir musnah dalam kegalauanku
Namun entah mengapa, ini terlalu dini untuk terakhiri

Dengan wujud setetengah abadi aku melanjutkan perjalanan ini

Selangkah demi selangkah, perih pun kian menjadi
Tubuh ini perlahan-lahan koyak
Wujud ini jatuh satu demi satu

Aku mengerang
Aku kesakitan
Aku menutup mata

Dan seketika ku tersadar

Aku telanjang...

Namun pintu itu tak lagi jauh...
Dan aku tak lagi peduli mau seperti apa wujudku nanti...

Aku hanya ingin berlari
Aku hanya ingin menjemput mimpi....

Dan sesampaiku disana
Aku melihat yang tercinta tersenyum sambil berkata...
“Aku tahu kau kan datang untukku”

Dan dia lah Surgaku...

Tuesday, April 8, 2008

Fenomena Sang Bulan

Denting dari hausnya perih kembali berkelana
Kini ungu violet menjadi perspektif atas hidupnya
Entah karena ricuh, entah karena kosong
Badai kembali meronta dalam kamuflase semilir angin

Potret dari sebuah realita yang bergejolak dalam semu
Penat yang telah lama terlelap hingga lupa untuk menjemput kesurutannya
Dia yang ditampar dengan kutuk
Dia pula yang akan mereda dalam kalut

Malam ini biarkan bulan mendapati dirinya...

Dan biarkan malam menelan sinarnya....

Biarkan paradigma menguasai benaknya...

Dan biarkan mereka merasuk hingga ke pelupuk jiwa...

Karena bulan adalah malam..
Dan hanya dengan malam bulan pun melebarkan sayapnya...

Saturday, March 8, 2008

Ketika Kosong Menjadi Duniaku

Aku masih berdiri di ambang putik cintaku
Masih mempertanyakan keberadaannya dalam hidupku
Akankah aku masih mengejar demi indahnya fana?

Sebuah dunia yang kuharapkan hadir menjemput layuku
Sebuah dunia yang menonggak dahagaku
Sebuah dunia yang ternyata tak pernah cukup bagiku

Entah karena aku
Entah karenanya

Kau boleh mengatakan kebimbanganku sedang meraja
Namun realita mengungkap kamuflase bahwa aku pun tak di sana

Sekelibat mimpi seraya berdansa
Aku pun menari dalam labirin jiwa yang tak lagi bernyawa

Aku dan kosong

Angan pun tak berani berkutik menjemput senja
Hanya aku dan pengelana waktu

Hanya aku dan kebimbanganku...