Thursday, September 4, 2008

Ketika Berjelaga

Keheningan ini sedikit mengusik jiwa yang tertunda
Sebuah kerinduan yang tertata kembali atas masa lalu
Sebuah pinta yang terkubur oleh sekat-sekat kehidupan
Kini sang pemeran utama kembali menjejakkan benak yang telah lama dingin

Hidup yang terlanjur berjelaga
Terlanjur menganga dalam serpihan raga yang utuh

Mungkin ini rasa...

Rasa yang bersembunyi dibalik ragu...

Ragu untuk menjadi siapa...

Sekali lagi lautan sunyi membahana...
Membahana kepada jiwa yang rabun
Membahana kepada sukma yang tuli

Sesosok objek penderita menjadi alasan atas berdirinya ketimpangan ini

Namun ia bahagia...
Ia bahagia dalam persembunyiannya yang pelik

Ia bahagia dalam keambiguan hati...

Dan semua telah menjadi setara....

Selaras...

Tanpa ketimpangan...

Tanpa kehilangan...

Thursday, May 15, 2008

Love Define Between The Angel and The Damn

Sesekali, aku ingin mengintip Surga
Seperti apa kegembiraan yang tersirat didalamnya?
Tubuh yang hina ini mencoba menembus perbatasan antara Neraka dan Surga
Kubuka gerbang kokoh itu, dan yang kulihat adalah ruang kosong dengan satu pintu emas di ujung lainnya.

Masih di dalam tubuh hina ini aku berjalan
Aku berpijak pada lantai-lantai yang tak beralas
Lingkup ini sedikit memaksaku untuk menarik nafas lebih dalam
Semakin jauh aku berjalan, semakin ringkuh tubuh ini menembus dimensi pertautan

Sampai ku di tengah perjalanan
Dimana hati ini mulai menarik segala ambisi yang tadinya menelan seluruh aku

Sayap hitamku koyak,
Aku bahkan tidak ingat, sejak kapan aku menjadi sehancur ini dalam wujud hinaku?

Sejauh yang kuingat, aku disana karena mimpi

Badan ini gontai
Detik berikutnya sayap ini patah keduanya
Namun aku masih dalam perangaiku dari dunia kegelapan
Kesakitan ini sungguh luar biasa...

Aku tidak ingat,
Apa yang membuatku bermimpi ingin mengunjungi Surga
Namun yang kutahu,
Sesuatu menungguku disana

Aku hampir musnah dalam kegalauanku
Namun entah mengapa, ini terlalu dini untuk terakhiri

Dengan wujud setetengah abadi aku melanjutkan perjalanan ini

Selangkah demi selangkah, perih pun kian menjadi
Tubuh ini perlahan-lahan koyak
Wujud ini jatuh satu demi satu

Aku mengerang
Aku kesakitan
Aku menutup mata

Dan seketika ku tersadar

Aku telanjang...

Namun pintu itu tak lagi jauh...
Dan aku tak lagi peduli mau seperti apa wujudku nanti...

Aku hanya ingin berlari
Aku hanya ingin menjemput mimpi....

Dan sesampaiku disana
Aku melihat yang tercinta tersenyum sambil berkata...
“Aku tahu kau kan datang untukku”

Dan dia lah Surgaku...

Tuesday, April 8, 2008

Fenomena Sang Bulan

Denting dari hausnya perih kembali berkelana
Kini ungu violet menjadi perspektif atas hidupnya
Entah karena ricuh, entah karena kosong
Badai kembali meronta dalam kamuflase semilir angin

Potret dari sebuah realita yang bergejolak dalam semu
Penat yang telah lama terlelap hingga lupa untuk menjemput kesurutannya
Dia yang ditampar dengan kutuk
Dia pula yang akan mereda dalam kalut

Malam ini biarkan bulan mendapati dirinya...

Dan biarkan malam menelan sinarnya....

Biarkan paradigma menguasai benaknya...

Dan biarkan mereka merasuk hingga ke pelupuk jiwa...

Karena bulan adalah malam..
Dan hanya dengan malam bulan pun melebarkan sayapnya...

Saturday, March 8, 2008

Ketika Kosong Menjadi Duniaku

Aku masih berdiri di ambang putik cintaku
Masih mempertanyakan keberadaannya dalam hidupku
Akankah aku masih mengejar demi indahnya fana?

Sebuah dunia yang kuharapkan hadir menjemput layuku
Sebuah dunia yang menonggak dahagaku
Sebuah dunia yang ternyata tak pernah cukup bagiku

Entah karena aku
Entah karenanya

Kau boleh mengatakan kebimbanganku sedang meraja
Namun realita mengungkap kamuflase bahwa aku pun tak di sana

Sekelibat mimpi seraya berdansa
Aku pun menari dalam labirin jiwa yang tak lagi bernyawa

Aku dan kosong

Angan pun tak berani berkutik menjemput senja
Hanya aku dan pengelana waktu

Hanya aku dan kebimbanganku...

Monday, February 11, 2008

Maaf Jika ini Memang Tidak Sempurna


Apa yang terjadi di kala kita tak ingin memilih?
Akankah fenomena terjadi?

Apa yang terjadi ketika matahari mengutuki buminya?
Bahagiakah penghuninya?

Kita sedang berbicara tentang rasa
Sebuah rasa yang lama tertinggal

Sebuah kerinduan yang pupus..
Sebelum ia melebarkan sayapnya kepada puing-puing pengharapan

Gelap mata yang tak mampu membedakan gelap terang cahaya
Atau...
Hati yang sedang tak ingin membuka diri?

Lelah menaungi setiap ratapan
Akankah usai?

Peran terhadap siapa pelindung dan dilindungi...
Akankah kau disana?

Untuk menolehpun kau enggan...

Adakah terpikirkan olehmu jikalau hati ini letih?
Letih terhadap setiap ketidak wajaran yang kerap terjadi?

Kali ini aku hanya membahasakannya dalam diam
Rintih ini kudekap pelan dalam pintu nurani terdalam
Seakan denyut nadi pun ikut meredam dalam diam

Aku hanya ingin berjalan dengan sebagaimana mestinya
Antara kau, aku dan lainnya...
Dapatkah kau mengerti?

Aku hanya merindukan suatu kewajaran
Dan maaf jika kita harus berjalan pada ketidaksempurnaan...

Tuesday, January 29, 2008

Sajak-Sajak Penyambung Hidup


Seseorang telah kembali dari dunianya yang tak beruang
Seseorang telah kembali demi dunianya yang hilang
Dia yang lama terkungkung dalam jiwa yang ambigu
Jiwa yang setengah hidup,setengah mati demi sebuah obor akal yang menempati posisi sebagai inspirasi
Dan kini kata "memulai" menjadi suatu problema baru yang terus menggantung pada bahu kerangka yang mulai dingin dari kinerjanya...

Dia yang telah lama bersemayam dalam ketiadaan
Dia yang akhirnya kembali kepada realita yang hakiki
Kembali dalam huru hara hidup bernama polemik
Kembali dari bunga tidur bernama mimpi yang kian lama kian tak dimengerti hendak memulangkannya kemana

Sebuah perjalanan kembali menjemput jiwanya yang lama tersesat
Sebuah jiwa yang akhirnya melebur menjadi detik-detik sajak
Sebuah jiwa yang akhirnya menata kembali barisannya dalam ruang-ruang karya
Dan entah mengapa ini membuatnya lebih hidup dalam raganya yang berselimutkan peran sebagai sang misterius

Sebuah rongga yang tercipta dibalik bilik keterasingan
Mengangkat kembali semangatnya yang telah lama pupus

Sebuah pencerahan yang didapat dari kesalahan rasa
Sebuah masalah yang dihadapkan kepada jawaban pilihan ganda
Adakah yang benar dari antaranya?

Akhirnya ini menjadi awal ketika seseorang harus berdiri pada sebuah pilihan

Kita belum dihadapkan pada sebuah akhir

Namun...

Seseorang memilih untuk beristirahat

Sejenak...

Dalam balutan zona amannya...