Saturday, February 20, 2010

Yang Tertinggal di Sudut Hati

Sebuah bintara atas nama masa lalu datang berbaris menyusuri sel-sel otakku
Kepenatan itu kian menjadi
Susah senang
Namun susah lebih mendominasi keterpurukan hati

Setapak yang tercipta dari jejak-jejak kepedihan
Alang-alang yang menjadi pemanis dari pemandangan sore itu
Penelusuran ini menguak kembali tambang hati yg telah pupus
Pupus dari keberadaan mereka yg pernah ada di jendela asa ku

Mereka yg selalu menjadi prioritas
Mereka yg selalu jadi alasan
Ini itu
Namun semua hanyalah bohong besar

Aku tertipu
Aku karam
Aku terlarut
Aku tertinggal

Dan hanya aku

Bohong besar tetap menjadi bohong besar
Dan aku tetap dalam kebodohan

Itu yg membedakan aku dari mereka

Mereka adalah bohong besar
Dan aku adalah sang bodoh yg hidup di dalam kebohongan besar

Pribadi ini memakan seluruh karakterku
Aku limbung, ling lung

Hati ini seketika dingin, kaku
Kobaran hati kecilku tak lagi sehangat yg dulu
Jeritan hatiku menggema dan menggaung
Semakin membesar menyorakkan kepenatan hatiku

Aku lelah
Lelah menjadi lara
Lelah menjadi senyum
Aku lelah menjadi lemah dan kuat
Karna itu bukan untukku

Dan semua itu menjadi cukup

Aku telah memenangkan suara hatiku
Aku meneriakkan kebebasanku
Aku berada di puncak dimana seharusnya aku memenangkan tempatku

Namun peluh dari lautan kepenatan itu masih melekat
Entah dimana
Mereka masih menyeringai menggapai-gapai
Dan mereka takkan lelah untuk terus menggapai kaki dari keteguhan hatiku