Monday, December 7, 2009

Jiwa yang Menggaung Dari Delhi

Seorang sahabat berkelana ke dunia antah berantah
Gandhi yang beku, katanya...
Sendiri terselimutkan rindu dan sepi
Hilang jati diri, terjerumus dalam pasak melankolistik

Kerinduan mengorek kesadarannya
Kesadaran akan segala kesalahan
Keputusan yang terlanjur ditempuh setengah tahun lamanya
Dan masih ada tahun berikutnya yang menunggu

Menunggu untuk sebuah misteri yang akan mengisi segala tangis dan peluhnya

Air mata itu telah mengering
Lelah menangisi kesendiriannya
Lelah menangisi segala kekeliruannya
Lelah menangisi kerinduannya
Namun raga tetap tak dapat berteleportasi dan kembali

Aku tahu...
Hati itu telah mengakar...
Menjelajah pada setiap sudut perhentian dan sandaran
Mencari sang bumipertiwi
Mencari makhluk-makhluk yang pernah ada di dalamnya

Tatkala kelak dia akan terlahir kembali
Bermetamorfosis menjadi makhluk yang lebih sempurna...
Dan ketika saat itu tiba semua akan bersorak sorai dan melempar kebanggaan atas dirinya...

Karna tangis, peluh, kesendirian dan tawa
Telah mengajarkannya
Delhi telah membuka mata batinnya
Gandhi yang beku telah melelehkan hatinya

Friday, August 21, 2009

When Love Finally Define

I the one who took a shelter in your brittleness
Who was hiding behind your tears
The covert strength which overwhelm your weakness
I am the sunbeam reversed to your darkness

Your tears are my wounds
The clatter of your journey is an obvious scratches
Which frequently seize my heart

And these feels are yours, even yet you touch though you see 

I try to open the casement of my heart and trace it
Is there anyone or whom?
Is it you, the biggest question?
Or maybe you are the answer

Everything revolve, encircle between the conscience and thoughts

I tried to pull my self out, withdrew all the feels that I've got
Yet the trails of yours continuously compel my limits
The silhouettes of your times mesmerize  my days
I trapped within the charm of your soul
 

However these barriers are no longer be sustainable

I will run after you
I no longer be an idle beneath the dark side of you

I'm finished with the dawn and I will be the day

I quit play as the role of a shadow
For I am the tangible, I am real...
As real as the embrace of twilight  which always there for you

Indonesian Translation:

Aku yang berlindung dalam ringkuhmu
Bersembunyi dibalik tangismu
Sebuah kekuatan diam yang bersemayam dalam lemahmu
Aku adalah sinar mentari yang bersembunyi dibalik gelapmu

Tangismu adalah lukaku
Derap derai kisahmu adalah guratan-guratan nyata
Yang kerap mengisi dan menjerat hatiku
Hati ini milikmu, meski tak sempat kau jamah bahkan hanya untuk sekedar kau lihat

Kucoba membuka tingkap-tingkap hati dan mencernanya
Dia yang kucari atau siapa?
Dirimu kah tanya?
Atau dirimu lah jawaban?
Semua berputar mengitari hati dan akal

Kucoba menarik diri, menarik hati
Namun jejak jejakmu terus menggali batasku
Siluet dari masa-masamu membayangi hariku
Aku terkurung dalam aura jiwamu

Namun pertahanan ini sudah tak lagi terbendung

Aku berlari pada ragamu
Aku tak lagi bersembunyi dalam gelapmu
Aku tak ingin menjadi pagi, aku ingin menjadi siang

Aku tak mau lagi menjadi semu
Karna aku adalah nyata...
Senyata pelukan senja yang selalu ada untukmu

Inspired by: Novel Dealova (about Ibel n Karra)
NB: kemaren pas bongkar2 gudang aku nemuin buku favoritku waktu sma, aku udah baca buku ini lamaaaaa banget, dan ini udah dibilang keberapa puluh kalinya aku baca buku ini dan still nangis, dan akhirnya tiba2 jadi punya hasrat buat ngungkapin rasa si Ibel ke dalam puisi.. hehehe

Monday, July 20, 2009

Pangeran Kelabu

Aku menjejakkan kaki pada pelana hati
Namun semua terasa lamur, buram, tertoreh tiada arti
Hati ini berbisik, mengusik
Siapa yang sedang berkelana menapaki kabut ini?

Dunia ini serasa runtuh...
Ataukah sedang bersembunyi?
Akankah ini tertuang dalam logika yang relevan dengan nurani?

Hati berkata ya
Rongga akal berkata tidak
Sebuah kontradiksi yang gagal menempuh kebenaran sebagai jalan akhir sebuah fakta

Bibir berkata ya
Mata berkata tidak
Akankah kau mampu mendobrak kemunafikan yang terbius disana?

Ini mimpi...
Dan kuharap ini memang mimpi...
Mimpi yang menggambarkan sebuah pusaran
Sebuah linear yang tidak henti-hentinya berputar mengitari kehidupan
Yang kuharap aku tidak pernah terlibat di dalamnya

Namun terlambat...
Aku sudah disana, berdiri sebagai poros dilema...

Sejenak aku diam...
Mencoba mencerna keadaan...

Aku bertanya kepada ruang kosong
Apa yang sedang "kau" cari?
Hitam kah?
Putih kah?
Dan semilir angin balik berbisik

"Kau sedang mencari pangeran kelabu."

Wednesday, May 6, 2009

Ironi Dari Sebuah Kemunafikan

Dia yang termenung dan termangu
Seakan-akan tersedot kedalam lubang hitam dalam pikirannya yang nyaris beku
Perangai itu masih disana
Perangai yang menghubungkan antara hati dan logika

Sebuah antagonistik yang masih menjelajahi kelimbungan
Dan masih bermain dengan kesetiaan
Atau mungkinkah ini adalah sebuah penghianatan?

Persetan dengan etika!
Bibir berkata, hati berkelana, dan Otak menyimpang entah kemana

Semua begitu kontradiksi
Tidak ada kejelasan
Tidak ada keselarasan
Dan sesosok individu hilang dari kriteria tegas atas sebuah karakteristik

Dia hanyalah maya atas dirinya...
Dia hanyalah abu-abu...
Dia hanyalah remang...

Dia tidak cukup hidup untuk menjadi nyata.

Friday, March 20, 2009

Ketika Jiwa Sedang Berkelana

Hidup adalah sebuah tanda tanya besar
Dimana sebuah makna tiba-tiba hadir untuk melepaskan jiwa dari sang raga
Sejenak ia tak bertuan
Sejenak ia berkelana untuk mencari kebenaran atas nama misteri

Melalui sajak ia bertutur
Puing-puing realita sebagian telah digenggamnya
Dan sebagian berserak hilang di pelataran rimba

Rimba yang terkadang menyesatkan
Rimba yang terkadang mengajarkan tentang keterasingan
Dan Rimba ini yang pada akhirnya menenangkan getir dalam jiwa yang hilang

Sekelibat cahaya menyusuri ruang kosong yang bertempat di hatinya
Akankah diam tetap menempati posisi mutlak dalam bibir asanya?
Atau pemberontakan menjadi jawaban atas penat seribu tahunnya?

Sang raga yang tak bertuan masih disana
Masih menunggu kepulangan dari sang jiwa atas jawaban hidupnya
Akankah hidup sungguh berarti?
Atau hidup hanyalah sekumpulan diktat dengan daftar isi dengan berbagai kisah, prinsip dan sebab akibat?

Sampai detik ini sang raga masih juga tak bertuan
Adakah itu sebuah pertanda bahwa hidup tak dapat diuraikan dengan diktat maupun deskripsi?
Karna jiwa tak dapat membawa hidup pulang kepada sang raga
Begitu pula dengan hidup, yang tak dapat memulangkan jiwa kepada sang raga

Ini bukan sebuah kompleksitas
Ini hanyalah sebuah dilema
Dilema yang terperangkap di dalam keambisiusan tanya

Tuesday, January 6, 2009

Karna Kau Adalah Yang Kucinta

Setiap liku ini adalah makna
Makna dimana aku mendapati dirimu adalah takdir
Dimana kau menjadi langit atas jiwaku
Dimana kau menjadi hembusan di setiap nafasku

Dunia ini hanya ada kamu
Dimana setiap keheningan adalah semu atas bayangmu
Di setiap sudut keriuhan hanya ada canda tawamu
Dan hangat sang fajar adalah mutlak pelukmu

Indahnya keheningan dari mencinta
Meski lekuk dari sang fajar tak mampu hembuskan rasa ini padamu

Aku ingin kau disini...
Mendengar desau dari hati dan jiwa ini

Dan biarlah langit yang bercerita
Jika bilik dari empunya segala rasa tak mampu menginterpretasikan kejujuran ini

Dan biarlah cinta yang berbicara
Jika mulut ini seketika menjadi bisu ketika kau hadir di depan kedua bola mataku

Karna kau begitu dirimu
Karna kau begitu kamu
Karna itu kau maka disana aku